KEKUATAN AUDIO VISUAL DALAM PEWARTAAN

Penulis yakin bahwa sebagian besar Pembaca pernah nonton acara di TV? Berapa stasiun TV yang Anda kenal? Berapa jam Anda nonton siaran TV setiap harinya? Pada tahun 1996 saja, sekitar 90 juta penduduk Indonesia sudah memiliki pesawat televisi. 1 Memperhitungkan bahwa sejak 1994 pertambahan pesawat televisi di Indonesia sekitar 650.000 buah setiap tahunnya 2, maka bisa diperkirakan dalam tahun 2006 terdapat 96.500.000 pesawat televisi. Jika setiap pesawat TV ditonton oleh dua orang, jumlah penonton televisi di Indonesia mencapai 193 juta orang atau 87% dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu pesawat video, VCD/DVD juga sudah merambah kemana-mana. Stasiun televisi juga semakin menjamur, baik di tingkat nasional, di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten. Hal ini menjadi pertanda bahwa siaran TV atau bahasa audio visual menarik perhatian orang. Alasannya, bahasa audio visual mempunyai kekuatan khusus, yang mampu membangkitkan imajinasi dan menggerakkan hati. Oleh karena itu kekuatan audio visual perlu dimanfaatkan dalam pewartaan iman. Bagaimanakah cara memanfaatkannya?

Pewartaan sebagai Komunikasi
Pewartaan adalah kegiatan komunikasi. Menurut Black Jay dan Frederick Whitney,4 komunikasi merupakan proses dimana masing-masing individu terlibat dalam tukar menukar makna. Komunikasi tidak hanya terdiri dari pernyampaian pesan secara verbal, langsung dan dengan maksud tertentu, melainkan juga semua proses dimana orang saling mempengaruhi satu sama lain. Proses komunikasi itu dapat melalui media audio visual, baik group media maupun mass media. Televisi adalah salah satu contoh dari media massa. Masyarakat pemirsa terdiri dari individu-individu yang bereaksi secara berbeda dan mengartikan pesan yang diterima dengan sudut pandang yang berbeda pula. Reaksi mereka tergantung dari pengalaman pribadi, latar belakang pendidikan dan disposisi hati. 5 Menurut aliran symbolic interactionism, makna diciptakan melalui dan dipertahankan oleh interaksi pribadi dimana setiap individu memperoleh makna untuk dirinya dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol. Meskipun televisi bersifat instrumental, ide dan informasi sebetulnya disebarkan dengan kata-kata dan jaringan hubungan interpersonal. 6 Penyebaran makna bukanlah sekedar pengiriman atau penerimaan informasi, melainkan hasil dari kegiatan menerima dan memberi melalui interaksi sosial. Dengan demikian pewartaan iman sebagai proses komunikasi merupakan kegiatan mengelola pesan (keselamatan) dengan tujuan menciptakan makna (imani). 7

Datangnya Zaman Baru
Sekarang ini orang Indonesia hidup dalam zaman komunikasi yang sangat baru dan mempunyai dampak permanen dalam cara orang mendengarkan. John Killinger, profesor homiletik pada Vanderbit Divinity School di Nashville, Tenesse berpendapat:

    “Dunia telah berubah menjadi desa dunia. Kita hidup dengan televisi, video tape, alat perekam,        �
     komputer, kamera, proyektor, mesin cetak, mesin fotocopy – segala perpanjangan mekanis dari diri
     manusia. Lebih dari yang lain …. alat-alat ini telah mengubah zaman dimana kita hidup.” 8

Pernyataannya ini disampaikan dalam konteks Amerika Serikat pada tahun 1975, tetapi sudah berlaku juga untuk kita yang tinggal di Indonesia 30 tahun kemudian. Michael Rogness, pengarang buku Preaching to a TV Generation, mengatakan hal yang senada:

    “Gambaran yang mencolok dari sebuah revolusi adalah televisi, yang dalam 40 tahun terakhir menjadi
     medium utama dari komunikasi publik. Televisi adalah medium komunikasi yang sangat berbeda dari
     kegiatan membaca dan bahkan sangat berbeda dari pembicaraan antar pribadi.” 9

Masyarakat kuno bercorak oral atau lisan. Sejarah dan kebudayaan diteruskan oleh pencerita dan penyair dengan berbicara langsung kepada para pendengarnya. Dalam zaman lisan bahasa bercorak sangat puitis, sebab ritme mampu membuat orang mudah untuk mengingat. Perkembangan media cetak yang diprakarsai oleh Gutenberg sekitar 500 tahun silam telah mengubah zaman lisan menjadi zaman budaya cetak. Bahasa yang puitis dan gambar digeser oleh bahasa prosa yang mementingkan logika dan bercorak linear.

Sekarang ini teknologi canggih telah memperluas kemungkinan-kemungkinan baru untuk berkomunikasi. Peralihan dari zaman lisan ke zaman cetak membutuhkan waktu berabad-abad, sedangkan televisi telah menggeser bentuk-bentuk komunikasi lainnya dalam waktu yang amat singkat. Kini televisi telah menjadi sarana utama bukan hanya informasi tetapi juga hiburan bagi hampir setiap orang di dunia. Dengan kata lain, televisi telah menyebabkan perubahan massal dalam cara mendengarkan, cara belajar dan cara kita berpikir. Televisi mengkombinasikan penglihatan dan pendengaran, tetapi dengan penuh dinamika sedemikian rupa, sehingga berbeda dengan kegiatan berbicara dan membaca.

Pierre Babin OMI, ahli katekese audio-visual dari Crec AVEX, Catholic University of Lyon, Prancis dalam bukunya The New Era in Religious Communication menegaskan bahwa televisi lebih mengutamakan bahasa simbolis daripada bahasa konseptual. 10 Bahasa simbolis adalah bahasa yang menggoda, menggetarkan emosi sebelum akhirnya ia berfungsi menerangkan. Bahasa simbolis menggerakkan bukan hanya roh, tetapi juga hati dan tubuh kita. Bahasa simbolis adalah bahasa yang penuh resonansi, ritme, cerita, imaginasi, sugesti dan koneksi. Bahasa itu berbeda dengan bahasa konseptual sebagai bentuk bahasa yang menyediakan representasi mental yang baku, terbatas, abstrak atas realitas.

Menurut Babin, televisi bekerja dengan prinsip symbolic way. Televisi menggunakan imaginasi, gambar, intuisi, cerita, nyanyian, dan pengalaman-pengalaman yang di-share-kan. Pewartaan iman, menurut Babin, bisa dijalankan dengan dua cara, yaitu katekese (instruksional) dan symbolic way. Namun dalam zaman televisi ini, terlebih bila kita ingin mengadakan pewartaan iman melalui televisi, atau pewartaan/pendalaman iman bagi generasi yang dipengaruhi bahasa televisi, kita harus menggunakan bahasa simbolis. Alasannya, bahasa jenis ini mempunyai pendekatan yang penuh gambar, imaginasi dan cerita. Dampaknya bisa mendalam, menyentuh emosi orang. Tujuan utamanya bukan pemahaman intelektual, tetapi keterlibatan hati dan pertobatan. 11 Iman di zaman sekarang harus ditemukan dalam kesadaran akan pentingnya mata, atau interioritas pribadi manusia. Hanya iman yang dibangun di atas interioritas pribadi akan bertahan dan berkembang. Symbolic way adalah cara yang paling cocok untuk meletakkan suasana yang nyaman bagi sabda Tuhan di zaman modern, di antara generasi TV.

Kekuatan symbolic way tersebut digarisbawahi oleh Walter Fisher, seorang profesor pada Communication Arts and Sciences, University of Southern California 12. Ia berpendapat bahwa semua bentuk komunikasi manusia perlu dilihat sebagai ceritera yang dibangun lewat sejarah, kebudayaan dan karakter manusia. Pada dasarnya manusia adalah “binatang” yang suka bercerita. Hal ini ditegaskan dengan fakta bahwa sebagian besar tradisi religius diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita yang dikisahkan kembali. Dari sudut pandang naratif, bagaimanapun juga, nilai adalah inti sari dari sebuah cerita. Alkitab, misalnya, berisi banyak cerita.

William F. Fore dalam buku Mythmakers: Gospel, Culture, and the Media juga menunjukkan pentingnya perumpamaan atau cerita. Perumpamaan adalah cerita biasa yang mengandung kebenaran-kebenaran yang tidak biasa dan amat penting. Metafora adalah kata-kata yang membantu kita melihat hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa. 13 Menurut Fore, manusia mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan baik yang dapat dibentuk melalui sejarah, biografi, kebudayaan dan karakter. Rasionalitas cerita ditentukan oleh koherensi dan sifat patut dipercaya dari sebuah cerita. Koherensi cerita berkaitan dengan bagaimana cerita itu tampak mungkin bagi pendengarnya. Kita sering menilai koherensi sebuah cerita dengan membandingkan cerita yang satu dengan cerita lainnya yang pernah kita dengar sehubungan dengan tema yang sama. Sebuah cerita dapat dipercaya apabila terasakan sesuai dengan pengalaman para pendengar, atau cocok dengan cerita kehidupan yang mungkin akan mereka sampaikan.

Fisher berkeyakinan bahwa sebuah cerita dapat dipercaya karena mengandung alasan-alasan logis untuk mengarahkan tindakan kita ke masa depan. Ketika kita masuk dalam sebuah cerita, kita sedang menapaki karakter yang seharusnya kita menjadi. Secara intuitif manusia tahu bagaimana menggunakan dan menilai sebuah cerita. Cerita memang sangat kuat untuk membawakan argumen moral publik yang berhubungan dengan pertanyaan dasar tentang baik dan buruk, hidup dan mati, gagasan-gagasan mengenai kepribadian, dan bagaimana manusia menghayati hidup ini.

Tak pelak lagi, bahwa oleh televisi hidup kita dibanjiri dengan banyak cerita. Fakta ini ditegaskan oleh Sarah Kozloff yang menulis artikel “Teori Naratif dan Televisi”. 14 Sebagian besar tayangan televisi – entah itu sitcom, film-film action, telenovela, dan mini seri – adalah program-program yang bercorak naratif. Apalagi program-program yang tidak termasuk hiburan fiksi, tetapi punya tujuan lain seperti program instruksional, pendidikan,atau debat, cenderung menggunakan metode cerita untuk mencapai tujuannya. Iklan di televisi pun ditampilkan dalam format naratif. Iklan di televisi biasanya amat pendek dengan gambar yang prima serta ditayangkan berulang-kali. Iklan di televisi memang mahal, tetapi sangat efektif dan berhasil menggiring pemirsa untuk membeli produk yang dipropagandakan. Video clips sering disajikan mengikuti alur cerita dari lirik lagunya. Film dokumenter tentang alam cenderung mengikuti cerita kehidupan binatang (sebagaimana dulu sering ditampilkan pada National Geography Channel dan Discovery Channel dan sekarang sudah di-dubbing oleh TV-TV swasta di Indonesia). Pertimbangan-pertimbangan di atas dapat memberi inspirasi kepada kita bagaimana menggunakan televisi atau bahasa televisi jika kita mau melaksanakan pewartaan iman pada zaman sekarang ini.

Heinrich Krauss19 dalam artikelnya “Cerita Alkitab untuk Televisi” menjelaskan bahwa cerita biblis memuat banyak pengalaman religius dan manusiawi. Pengalaman-pengalaman tersebut tetap amat bermanfaat bagi masyarakat modern, apabila disajikan secara kreatif di televisi tanpa harus kehilangan kebenaran spiritualnya. 20 Bila kita sekarang menggunakan bahasa televisi untuk pewartaan iman, kita tidak perlu menggurui pemirsa, melainkan menceritakan sebuah kisah kepada mereka. Mengapa? Sebab umat sekarang sudah sangat dipengaruhi oleh image atau gambar daripada oleh kata-kata, bahasa lisan atau tulisan. Oleh sebab itu cerita sebagai bahasa inti dari bahasa televisi atau audio visual lebih menarik daripada bahasa instruksional. 21

Bentuk-bentuk Pewartaan Audio Visual
Pendalaman iman dengan memanfaatkan program-program audio visual dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Berikut ini sekedar sharing tentang bentuk-bentuk pewartaan iman yang sering penulis lakukan:
a) Bentuk pertama ialah pertemuan reguler seminggu sekali dalam kesempatan katekese di wilayah/paroki atau kelompok tertentu (orangtua, mahasiswa, muda-mudi, anak-anak). Biasanya pertemuan ini berlangsung antara 1 s.d. 2 jam.
b) Bentuk kedua ialah pertemuan periodik dalam kesempatan rekoleksi (orangtua, muda-mudi, kaum religius). Pertemuan macam ini berlangsung selama setengah hari sampai satu setengah hari.
c) Bentuk ketiga ialah retret audio visual yang berlangsung antara 3 hari sampai 8 hari (kaum religius, mahasiswa, dan anak-anak SMA).
d) Bentuk keempat adalah siaran program religius lewat televisi. Bentuk ini dilakukan secara periodik, yaitu sebulan sekali selama 30 menit.
e) Bentuk kelima ialah pendalaman iman melalui kotbah audio visual di gereja. Bentuk ini berlangsung selama 15 menit.

Selama ini penulis mengalami bahwa sebagian besar peserta yang mengikuti pendalaman iman dengan metode audio visual merasa puas. Refleksi iman yang berangkat dari program audio visual dirasakan menyenangkan, kongkrit, memotivasi peserta untuk terlibat, membantu terjadinya refleksi iman lebih dalam, dan mempererat persaudaraan. Kekuatan audio visual tentu semakin kentara apabila didukung oleh tempat yang sesuai, sarana teknis yang mencukupi, metode pendalaman program audio visual yang partisipatif dan fasilitator yang komunikatif.

Pertemuan bentuk pertama, yaitu proses katekese audio visual di antara mahasiswa, penulis lakukan selama satu semester setiap tahunnya. Prosesnya terdiri dari 14 kali pertemuan dalam rangkaian tema yang terintegrasi. Misalnya, “Media, Agama dan Perdamaian”. Proses selama satu semester berpola demikian: program audio visual – refleksi pribadi – refleksi bersama – aksi/obervasi di lapangan – program audio visual – bantuan referensi Kitab Suci/Tradisi – refleksi pribadi – refleksi bersama – aksi/ekspresi kelompok – dan diakhiri dengan refleksi pribadi secara tertulis. Kekuatan audio visual dapat diamati dari kesan-kesan spontan yang mereka ungkapkan, refleksi pribadi maupun kelompok yang mereka buat, dan evaluasi tertulis pada akhir semester. Pertemuan macam ini selalu penulis lakukan di antara para mahasiswa IPPAK – USD. Memang suasana intelektual lebih terasa, meskipun proses itu juga memperdalam segi-segi spiritualitas dan hidup komuniter.

Pertemuan bentuk kedua, yaitu rekoleksi audio visual, menggunakan metode yang kurang lebih sama. Program audio visual digunakan sebagai titik tolak; namun kadang-kadang dapat dipakai juga sebagai ilustrasi. Hasil refleksi peserta atau tema-tema permasalahan yang muncul kemudian direfleksikan dengan bantuan Kitab Suci. Dalam proses lebih lanjut dipilihkan program audio visual yang kira-kira bisa membantu untuk memperdalam refleksi. Teks-teks Kitab Suci tidak selalu mutlak diperlukan, apabila program-program audio visual yang dipakai sudah diwarnai oleh refleksi teologis-biblis dari pembuatnya. Rekoleksi biasanya berlangsung dalam suasana yang lebih hening daripada pertemuan bentuk pertama. Kekuatan audio visual dapat dideteksi dari refleksi yang mereka ungkapan dalam reaksi spontan sesudah penayangan, saat doa-doa spontan, maupun kesan-kesan pada akhir rekoleksi. Rekoleksi audio visual membantu mereka untuk menyegarkan iman secara rileks dan komuniter. Rekoleksi semacam ini pernah penulis laksanakan di antara para Bruder-bruder CSA, Suster-suster AK – Condronegaran Yogya, maupun staf Campus Ministry Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pertemuan bentuk ketiga, yaitu retret audio visual. Prosesnya kurang lebih sama dengan proses rekoleksi. Bahan audio visual semakin bervariasi. Permasalahan yang muncul sejak awal retret dapat diikuti perkembangannya. Wawancara pribadi semakin memudahkan untuk mengenal situasi batin peserta. Hal ini menentukan program audio visual yang perlu disediakan dalam setiap tahap sesuai dinamikanya. Dinamika utama mengikuti Latihan Rohani, sedangkan metodenya adalah audio visual. Mereka umumnya merasakan bisa berdoa, mengalami retret sebagai liburan bersama Tuhan, dan menyegarkan iman. Ternyata program audio visual yang sama dapat bermakna secara berbeda pada pribadi yang berbeda. Kelompok yang pernah mengikuti retret audio visual ini antara lain: SMA St. Angela Bandung dan SMA St. Maria Surabaya (3 hari); Suster-suster AK di Klaten dan Ungaran (8 hari), Suster-suster PI di Sinduharjo (8 hari), Suster-suster JMJ di Malino (8 hari), dan Suster-suster Novis FSGM di Pringsewu-Lampung (8 hari). Mereka umumnya sangat berterima kasih bisa mengalami retret macam ini.

Bentuk pendalaman iman yang keempat adalah siaran program agama di stasiun TV. Penulis terlibat dalam menyiapkan program agama ini untuk Indosiar (1995-2002) dan TPI (2002-2006). Program ini adalah siaran rutin dua minggu sekali (Indosiar) dan sebulan sekali (TPI). Kegunaan atau kekuatan audio visual dalam program ini dapat dideteksi melalui umpan balik yang dikirim lewat surat, email, atau tilpon. Pernah diadakan penelitian secara nasional (1999 dan 2003) tentang manfaat dari siaran ini. Hasilnya menunjukkan bahwa siaran ini bermanfaat untuk memperluas wawasan keagamaan, menyegarkan iman, dan membangun sikap toleransi antar pemeluk berbagai agama. Akhir-akhir ini siaran “Bimbingan Rohani Katolik” yang penulis asuh di TPI semakin mendapat iklan yang cukup. Hal ini sebagai petunjuk bahwa program ini disenangi oleh pemirsa. Bahan-bahan yang telah disiarkan juga penulis pakai untuk membimbing berbagai retret audio visual. Para peserta pun merasakan bahwa program-program itu bermanfaat untuk pendalaman iman.

Bentuk yang terakhir ialah kotbah audio visual di gereja. Penulis pernah lakukan berkali-kali di gereja St. Yohanes Marinus, Kepanjen, Surabaya dan gereja St. Antonius Purbayan, Solo. Program audio visual yang berdurasi pendek (5 menit) kadang-kadang penulis pakai sebagai titik tolak kotbah dan kadang-kadang sebagai ilustrasi. Cara mendeteksi kekuatan kotbah audio visual adalah sebagai berikut: sesudah misa pengkotbah berdiri di halaman gereja dan bersalaman dengan umat sambil mendengarkan kesan-kesan spontan mereka. Cara yang lain ialah dengan melihat jumlah VCD yang terjual setiap kali misa. Semakin banyak umat yang membeli VCD yang penulis pamerkan, ini berarti pertanda bahwa semakin kuatlah kotbah audio visual tadi. Syukurlah, selama ini kotbah-kotbah macam itu tetap disenangi dan dinantikan oleh umat.

Penutup
Demikianlah beberapa gagasan dan pengalaman konkrit mengenai kekuatan audio visual dalam pewartaan iman. Penulis mengalami bahwa “the power of imagination” itu memang nyata. Film atau audio visual adalah cara kontemporer untuk menangkap pewahyuan timbal balik antara Tuhan dan manusia. Menggunakan audio visual dalam pewartaan berarti mewujudkan gagasan St. Ignatius Loyola tentang kekuatan imajinasi ke dalam dunia kita sekarang. Dalam Kisah Para Rasul disebutkan bahwa pada hari Pentakosta khotbah Petrus membuat tiga ribu orang lagi menjadi percaya (Kis 2:41) dan mereka ini kemudian tumbuh menjadi umat yang pertama. Apa arti cerita ini bagi pewarta sabda yang hidup di jaman televisi ini? Menurut hemat penulis, di situ tersirat ajakan agar kita tidak berhenti belajar untuk menyampaikan kesaksian iman dengan cara yang diterima oleh semakin banyak orang. ***

—- Drs. YI. Iswarahadi SJ, MA adalah alumnus Crec-AVEX, University of Lyon, Prancis dan memperoleh gelar Master of Arts di bidang radio dan televisi di University of the Philippines, Manila pada tahun 1999.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s